Puisi Dilematis Hidup

DILEMATIS HIDUP

Berjalan ia di bawah terik menggantung di langit

Berbekal bahu kekar menopang kayu bakar dari kebun sempit pojokan

Juga kedua kaki cukup riang menapak pada tanah tandus berbatu

Kiri kanan tak lagi ada arti batuan pipih bermunculan

Meski kepala beralas topi bekas komandan tentara seberang rumah

Tetesan peluh tak terbendung turun menempel pada kelopak lensa

Dihapusnya dengan jemari berkulit kusut penuh luka

Sesekali ia membikin topi bulat bercorak infantri itu terangkat

Sampai-sampai barisan uban tak beraturan mengintip lewat kerutan kening

Putihnya seakan menjadi saksi perjuangan setengah lebih abad

Tawa saat muda telah hilang dilahap jahatnya usia

Di rumah kau merasa sepi, di ladang kau tumbuh menyepuh

Dilematis hidup dalam kesendirian kini kau alami

Kekasih tercinta telah diundang Sang Maha terlebih dahulu

Sedang darah dagingmu bertebaran mencari penghidupan

Huh! Hidupmu begitu nelangsa! Aku tidak sangggup jika harus menjadi engkau


Tolo Kara, 9 April 2020.

Komentar

Postingan Populer