Puisi Dilematis Hidup
DILEMATIS HIDUP Berjalan ia di bawah terik menggantung di langit Berbekal bahu kekar menopang kayu bakar dari kebun sempit pojokan Juga kedua kaki cukup riang menapak pada tanah tandus berbatu Kiri kanan tak lagi ada arti batuan pipih bermunculan Meski kepala beralas topi bekas komandan tentara seberang rumah Tetesan peluh tak terbendung turun menempel pada kelopak lensa Dihapusnya dengan jemari berkulit kusut penuh luka Sesekali ia membikin topi bulat bercorak infantri itu terangkat Sampai-sampai barisan uban tak beraturan mengintip lewat kerutan kening Putihnya seakan menjadi saksi perjuangan setengah lebih abad Tawa saat muda telah hilang dilahap jahatnya usia Di rumah kau merasa sepi, di ladang kau tumbuh menyepuh Dilematis hidup dalam kesendirian kini kau alami Kekasih tercinta telah diundang Sang Maha terlebih dahulu Sedang darah dagingmu bertebaran mencari penghidupan Huh! Hidupmu begitu nelangsa! Aku tidak sangggup jika harus menjadi engkau ...









