Puisi Alunan Kata
ALUNAN KATA
Kekasih, menemanimu adalah rutinitas yang menyenangkan, setiap hari akan kau hidangkan makanan dengan rempah safron terbaik dari ladang kita, kau seduhkan aku secangkir kaskacara dari kebun kopi di belakang rumah kita, melihat anak-anak tumbuh dewasa bersama-sama, dan setiap sore di pelataran rumah kita, mata kita beradu bisu, bermesra, dan meranumkan cinta setiap hari.
Pun bila kau ajak aku bersemedi di gua garba denganmu, tanpa kemegahan fatamorgana secuil pun, akulah lelakimu yang selalu setia dengan segala pintamu, sebagai wujud persembahanku pada Pencipta kita yang Agung.
Ritual sore kita, membaca buku di taman belakang diiringi alunan melodi rindu dari gramofon, kemudian mengeja setiap alofon dalam aerogram kiriman kita saat masih memadu kasih di usia muda, kemudian saling bertatap dan tertawa, merayakan hari hari penuh asmara.
Hari-hari dimana cinta dan ketulusan di konstruksi. Melekat kenang pada kening, membuncah rindu pada setiap jarak yang sendu. Kau dan Aku bukanlah Laila dan Majnun atau bahkan Annelis dan Minke, tetapi Kita adalah representasi bahwa Tuhan adalah pangkal dari segala yang indah.
Serayu 5, Kalik.
BMZ, 7 Oktober 2019.
Hari-hari dimana cinta dan ketulusan di konstruksi. Melekat kenang pada kening, membuncah rindu pada setiap jarak yang sendu. Kau dan Aku bukanlah Laila dan Majnun atau bahkan Annelis dan Minke, tetapi Kita adalah representasi bahwa Tuhan adalah pangkal dari segala yang indah.
Serayu 5, Kalik.
BMZ, 7 Oktober 2019.



Komentar
Posting Komentar