Celotehku


TUHAN DIPIHAK KITA


Situasi sekarang ini (munculnya covid 19) membuat saya mengingat kembali perkataan guru-guru saya semasa di Madrasah dulu, diantara ucapannya adalah Allah tidak akan pernah menghacurkan suatu kaum ketika di dalam kaum tersebut masih terdapat orang-orang beriman. Hal itu memanglah disadur dari ungkapan suci yang ada dalam Al-Quran Al-Kariim surah Hud ayat 117 dimana Allah tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.

Lalu ketika merujuk pada keadaan sekarang ini, banyak sekali berseliweran di media sosial pendapat-pendapat yang mengamini keadaan sekarang ini sebagai akhir daripada kehidupan di dunia. Hal itu dikarenakan cepatnya wabah covid 19 mengisi segala penjuru mata angin dunia, ditambah ketiadaan penawar bagi wabah tersebut. Namun, saya yang dhaif ini tidak bermaksud untuk mengomentari apalagi sampai mengkritik pendapat-pendapat tersebut, karena bagi saya, siapapun berhak mengeluarkan isi pikirannya untuk kemudian diambil ibrohnya.

Muhasabah Diri
Sedianya hukum sebab akibat telah mengajarkan kepada kita bahwasanya segala sesuatu terjadi karena ada penyebabnya, singkatnya ada sebab ada akibat. Wabah ini tidak serta merta hadir begitu saja di tengah-tengah kita. Tentu ada sebabnya, terlepas dari segala bentuk konspirasi yang ada dibaliknya, bisa jadi kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita lakukan selama ini adalah salah satu penyebabnya. Bagaimana entengnya kita meninggalkan salat 5 waktu, menenggak minuman keras, berzina, dan segala bentuk ketidakbaikkan dalam perbuatan yang dilakukan. Saya meyakini kesemuanya memiliki andil dalam hadirnya musibah ini, bisa saja ini adalah bentuk teguran atau yang lebih parah lagi adalah seperti pendapat-pendapat di media sosial tadi. Seperti halnya Kaum ‘Aad dan Kaum Saba yang dibinasakan oleh Allah karena kehidupan kaum tersebut telah banyak diisi oleh hal-hal yang tidak mengandung kebaikan. Peristiwa ini haruslah menjadi momentum bagi kita semua untuk kemudian melihat-lihat kembali tingkah laku serta perbuatan kita selama ini. Setidak-tidaknya kita bisa menakar sendiri apakah kebaikan masih mendominasi atau justru sebaliknya. Dengannya, kita dapat memperbaiki yang salah, menjauhkan diri dari keburukan, lebih-lebih meningkatkan kemampuan kita dalam berbuat kebaikan. Untuk kemudian bersama-bersama menjadi jaminan untuk kehidupan ini akan tetap berlanjut hingga esok hari.
Tempat Ibadah Ditutup
Hari ini, saat saya berbaring di sofa ruang tamu, saya tidak sengaja mendengar berita di sebuah stasiun televisi lokal yang menyiarkan konferensi pers lima pemuka Agama (saya lupa Agama apa saja) yang menginstruksikan saudara seaqidahnya untuk sementara waktu melaksanakan ibadah di rumah masing-masing. Hal itu dilakukan mengingat keadaan yang semakin memburuk dan sebagai upaya pencegahan untuk memutus penyebaran Covid 19. Namun, anjuran tersebut justru menciptakan semacam dikotomi di tengah masyarakat, dimana ada kubu yang setuju dan ada pula yang tidak. Itu terlihat dari dipatuhi atau tidaknya anjuran tersebut di lapangan dan kenyataannya memang ada yang mengikuti dan ada yang tidak. Dan diantara alasan ketidakpatuhan tersebut adalah penganggapan bahwa kehidupan telah Tuhan tentukan awal dan akhirnya. Sebaliknya, kubu yang patuh menganggap anjuran para pemuka agama tersebut sebagai bentuk ikhtiar bersama dalam menjaga diri sendiri sekaligus menjaga saudara kita yang lainnya. Terlepas dari itu semua, langkah yang perlu diambil sekiranya adalah tidak memutuskan hubungan kita dengan Tuhan melalui peribadatan dan tidak perlu “ngambek”  ketika tempat ibadah ditutup untuk sementara, karena sedianya tugas kita adalah menjaga Tuhan agar selalu bersemayam dalam hati kita. Tidak hanya itu, pun hubungan dengan sesama manusia harus terus berjalan meski tanpa ada kontak fisik seperti berjabat tangan dan tanpa bertatap muka sebagai upaya saling menjaga sekaligus representasi kebhinekaan di Bumi Manusia ini.

Akhirnya, kebaikan dan keimanan harus terus melekat dalam diri kita. Dengan itu, mentari di hari esok masih akan dapat dinikmati keindahan dan kehangatannya. Saling menjaga dan melindungi haruslah terus digalakkan demi kemaslahatan bersama, dan tidak lupa, saling membantu dalam kesusahaan adalah langkah kecil untuk menjadi bijak disaat seperti sekarang ini. kemudian saling mendoakan adalah bentuk rasa cinta paling tinggi antar sesama, karena Tuhan di langit sana menjadi saksinya. Tinggalkan segala hal yang menyulut perpecahan dan permusuhan, meski perbedaan tidak dapat dihindarkan. Dan mari menjadi orang yang paling bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain di Bumi Manusia.

Rade, 29 Maret 2020.
Ditulis disaat Corona Virus Disease 19 menjadi musuh dunia.

Komentar

Postingan Populer