Cerpen Kaum Yang Terpinggirkan
KAUM YANG TERPINGGIRKAN
Hari semakin sore, dan Inaq Patimah yang setelah makan siang tadi melanjutkan mencangkul sawahnya yang akan ditanami padi itu memutuskan untuk bersiap pulang ke rumahnya. Ia ambil tas putih yang diletakkan di saungnya dan menggantungkannya di cangkul yang ia pikul di bahunya lalu berjalan pulang tanpa alas kaki ke rumahnya yang jaraknya cukup jauh. Hal itu telah biasa ia lakukan setiap harinya, sehingga membuat ia tidak pernah mengeluh walau harus berjalan jauh tanpa alas kaki, karena ia hanya memiliki satu sendal yang hanya ia gunakan saat di rumah dan saat ada acara.
Sesampainya di rumah, ia melihat piring, panci, wajan, dan beberapa peralatan makan lainnya telah berserakan dilantai rumahnya yang bersemen kasar dan sedikit berdebu akibat semen yang terkelupas. Lalu tiba-tiba Zainal datang dari arah dapur dan berkata sambil membentak “Inaq! Mana makanan?”
Dengan sabarnya Inaq Patimah menjawab “Inaq baru pulang dari sawah nak dan belum sempat memasak”
“aku tidak mau tahu, Inaq harus masak sekarang juga atau aku pecahkan semua piring di rumah ini!” Zainal kembali membentak
Dengan gemetarnya Inaq Patimah menjawab sambil meletakkan cangkul yang ia bawa “I iya nak, Inaq akan masak sekarang, tunggu sebentar ya nak”
Inaq Patimah pun memasak nasi dan lauk seadanya yang mereka miliki. Dengan sabarnya ia duduk dan meniup api supaya menyala dari kayu bakar yang telah ia susun agar dapat terbakar. Seketika dapur yang cukup sempit itu dipenuhi asap. Rumah itu memang hanya memiliki 3 ruang kecil, 2 ruang tidur yang tidak terlalu besar dan 1 dapur, dan dibelakang rumah itu ada sumur dan 1 bilik tidak beratap yang terbuat dari anyaman bambu yang dijadikan sebagai kamar mandi.
Ketika nasi dan lauk matang, Inaq Patimah langsung memanggil Zainal yang sejak tadi menggerutu di kamarnya karena lapar
“Zainal, ayo makan nak, makanannya sudah Inaq masak” kata Inaq Patimah
“lama banget, nggak tau orang lapar aja” Zainal keluar dari kamarnya sambil mengomel
Hari semakin gelap, Zainal akhirnya menyantap makanan itu dengan lahap, sementara Inaq Patimah ke belakang rumah untuk membersihkan dirinya, walaupun sebenarnya ia juga merasa lapar, namun, karena melihat Zainal yang begitu lapar dan emosi, ia tidak ingin mengganggunya dan menungguinya selesai makan. Karena ia tahu setelah itu Zainal akan pergi keluyuran entah kemana, karena itu telah menjadi kebiasaannya saat malam datang
Pagi itu Pak Lalu dan Bu Baiq sedang sarapan sambil menonton berita di televisi, hal itu memang telah menjadi rutinitas mereka setiap pagi sebelum berangkat kerja. Namun, berita pagi itu sedikit berbeda dari biasanya, karena membahas tentang lokasi pembangunan gedung perusahaan listrik Negara yang baru. Pak Gubernur yang diundang dalam acara berita yang dipandu seorang reporter perempuan itu ditanya “kira-kira menurut Bapak Gubernur, dimana lokasi yang ideal untuk membangun gedung PLN baru ini?”
“Di kota Mataram kita masih memiliki banyak lahan kosong, salah satu contohnya kita bisa membeli lahan sawah warga di Kelurahan Panin yang masih memiliki banyak lahan” Pak Gubernur menjawab dengan santainya
“lalu bagaimana jika warga menolak untuk menjual lahannya Pak?” Reporter itu kembali bertanya
“hehehe itu bisa kita lihat di lapangan nanti karena ada tim yang akan mengurusnya, yang jelas kita akan berbuat yang terbaik untuk daerah kita ini” kata Pak Gubernur
Hal itu membuat Bu Baiq sedikit kesal, karena ia adalah seorang guru ipa di sekolah tempat ia mengajar, ia suka geram ketika mendengar alam ingin dirusak karena dibangun gedung-gedung seperti itu
“pemerintah ini taunya hanya membangun saja tanpa memikirkan dampaknya” kata Bu Baiq “kalau semua lahan sawah digunakan untuk membangun gedung, lalu apa yang akan kita makan nanti? Masa makan listrik”
“hahaha” Pak Lalu hanya menjawabnya dengan tertawa
“belum lagi nasib para petani yang akan diambil lahannya, salah satunya Inaq Patimah misalnya” Kata Bu Baiq
“iya yah Bu, kalau lahan Inaq Patimah dan petani lainnya diambil, nasib mereka gimana ya?” Kata Pak Lalu sambil mengunyah makanannya
“maka dari itu Pak, kasian mereka, seharusnya pemerintah juga memikirkan nasib mereka”
“ya begitulah pemerintah kita Bu” kata Pak Lalu
Setelah sedikit berbincang dan menyelasaikan sarapannya, mereka bersiap-siap untuk mandi dan berangkat kerja. Saat mereka keluar rumah, mereka bertemu dengan Inaq Patimah yang sudah siap dengan cangkul dan tas putihnya untuk ke sawah
“eh Inaq, mau berangkat ke sawah?” kata Bu Baiq
“nggih Bu, Bapak sama Ibu sudah mau berangkat kerja?” Kata Inaq
“iya Naq, Inaq sudah dengar berita hari ini?”
“belum Bu, saya kan tidak punya TV” Inaq Patimah menjawab sambil tersenyum malu
“Inaq tahu, di TV tadi ada Pak Gubernur, beliau membicarakan tentang lahan untuk membangun gedung PLN yang baru”
“wah hebat ya Pak Gubernur bisa masuk TV” Inaq Patimah menjawab dengan polosnya
“bukan itu Naq” Kata Bu Baiq “Inaq harus tahu bahwa lahan yang ingin digunakan adalah lahan persawahan di kelurahan kita ini, bisa-bisa lahan Inaq juga ikut diambil dan digunakan untuk membangun gedung itu”
“Astagfirullah” Inaq Patimah kaget “kalau lahan kami diambil, lalu dimana kami akan mengadukan nasib kami ini Pak Bu?”
“itulah pemerintah kita Naq, hanya tahu membangun tapi tidak pernah memikirkan dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan”
“sudah-sudah, ayo kita berangkat” Tiba-tiba Pak Lalu memotong pembicaraan mereka “Inaq, kami berangkat dulu, sudah terlambat ini”
“iya Pak” kata Bu Baiq “kami berangkat dulu ya Naq”
“Nggih Pak Bu” Inaq Patimah menjawab dengan wajah yang dipaksa untuk tersenyum
Hari itu Inaq Patimah berangkat ke ladangnya dengan perasaan resah karena informasi dari Bu Baiq tadi. Ditambah hal itu ternyata sudah diketahui pula oleh para petani lainnya. Bahkan dari mereka sudah ada yang diminta menjual lahannya dengan murah oleh beberapa orang yang datang ke rumah mereka sambil mengancam. Hal itu semakin membuat Inaq Patimah resah hingga menggerutu dalam hatinya “kenapa tega sekali ya pemerintah, ingin mengambil lahan orang seenaknya tanpa memikirkan nasibnya, kalau lahan kami diambil, adakah pekerjaan yang cocok untuk kami yang sudah tua ini? Darimana kami akan makan kalau sawah kami diambil? dan darimana beras akan datang kalau sawah tidak ada?”
Ia terus membayangkan bahwa sawah yang sebentar lagi akan ia tanami dengan padi itu akan segera diambil alih oleh pemerintah, dan memikirkan nasibnya setelah itu. Saat ia kembali ke rumah lebih awal dari biasanya, Zaenal menyambutnya dengan bentakkan untuk meminta uang
“Inaq minta uang!” Sambut Zainal
“maaf nak, Inaq tidak punya uang, uang ini hanya cukup untuk membeli lauk kita hari ini” kata Inaq Patimah
“aku nggak peduli, yang jelas aku mau uang sekarang juga”
“tapi nak….”
“ah sudah sini uangnya” Zainal merampas uang yang di genggam Inaq Patimah dan pergi meninggalkan Inaq Patimah
Cobaan seakan bertubi-tubi datang ke Inaq Patimah, belum lagi harus memikirkan lahan sawahnya yang akan diambil, ia harus tersiksa karena tingkah Zainal yang setiap harinya selalu memperlakukan ia seperti bukan seorang ibu
Beberapa hari setelah berita di televisi itu, orang-orang yang wajahnya asing mulai berdatangan ke Kelurahan Panin untuk sekedar melihat-lihat atau bahkan untuk berbicara dengan beberapa petani. Salah seorang petani bahkan pernah mengungkapkan bahwa mereka sebenarnya bukan sekedar mengobrol dengan para petani, tetapi justru membujuk mereka untuk menjual sawahnya dengan berbagai macam tawaran yang menggiurkan, seperti akan dijanjikan pekerjaan yang layak misalnya. Bahkan tak jarang ada beberapa petani juga yang mengaku pernah diancam akan dirusak tanamannya jika tidak mau menjual lahannya, di persawahan ini memang warga tidak hanya menanam padi, tetapi juga menanam sawi, bayam, dan juga kol.
Para petani yang merasa terancam akhirnya mengumpulkan para petani lainnya di halaman rumah seorang warga, termasuk Inaq Patimah, untuk membuat kesepakatan bahwa mereka akan menolak jika lahannya ingin diambil atau dibeli oleh pemerintah. Mereka semua bersepakat bahwa mereka akan menolak dengan cara apapun, karena mereka merasa itu semua adalah hak mereka, sampai seorang petani mengatakan “Negeri ini sudah merdeka, tidak seharusnya hak-hak kita ingin diambil tanpa persetujuan seperti ini, apapun bentuknya kita harus menolak!”
“setuju!” warga lain mengikuti
Suatu hari Pak Gubernur ditemani oleh Pak Walikota Mataram yang dikawal oleh pengawal-pengawal mereka yang berjumlah lebih dari 20 orang dan berbadan kekar datang mengunjungi Kelurahan Panin, mereka dijadwalkan untuk mengecek lokasi yang ingin mereka gunakan untuk membangun gedung PLN baru itu yang lokasinya direncanakan di persawahan warga, hal itu langsung memantik amarah warga dan yang sejak berita di televisi itu memuncak. Mereka bersama-sama, termasuk Inaq Patimah hendak menghampiri Pak Gubernur dan Walikota yang sedang asik berbincang di tengah persawahan untuk menolak segala keputusan pemerintah yang ingin mengambil lahan mereka meskipun dibayar
“Pergi dari sini!” kata seorang warga “jangan mengganggu lahan pertanian kami, kami tidak akan menjualnya ke siapapun”
Para pengawal yang sejak tadi sudah bersiaga langsung melindungi Pak Gubernur dan Walikota dan menggiringnya menuju mobil mereka, namun warga berusaha mengejar sampai akhirya saling dorong dengan para pengawal itu di pinggir sebuah got yang membatasi lahan persawahan dengan jalan raya. Inaq Patimah yang bertubuh kurus kecil juga ikut dalam aksi dorong-mendorong itu, sampai akhirnya ia tidak sengaja jatuh dan kepalanya terkena pinggiran got yang di semen hingga pingsan, sontak saja itu membuat para warga berteriak “Inaq Patimah jatuh, Inaq Patimah jatuh” dan mereka akhirnya mengakhiri aksi dorong-mendorong itu untuk menggotong Inaq Patimah yang tidak sadarkan diri ke rumahnya
“Zainal…Zainal…” Kata salah seorang warga
Zainal yang sedang tertidur di kamar akhirnya terbangun dan berteriak “siapa itu?! Mengganggu orang tidur saja”
“Inaqmu pingsan Zainal” sahut seorang warga lagi
Akhirnya Zainal keluar dari kamar dan membuka pintu rumahnya yang saat itu tertutup, ia kaget melihat Inaq nya yang di gotong oleh warga, “Inaq! Kenapa ini?!” kata Zainal
Inaq Patimah dibawa masuk dan dibaringkan di kamar kecilnya yang hanya berisi satu kasur kapuk dan lemari kayu yang satu pintunya telah copot dan seorang perempuan mengolesi kening dan sedikit hidungnya dengan minyak wangi sambil berharap Inaq Patimah akan sadar. Zainal yang biasanya kasar dan keras sedikit gusar dan nampak terlihat ingin menangis ketika melontarkan pertanyaan kepada warga “Inaq kenapa Pak Bu?”
Salah seorang warga akhirnya menjawab “Inaq mu terjatuh dan kepalanya terbentur saat kami saling dorong dengan pengawal Pak Gubernur dan Walikota di pinggir got tadi”
“lagi-lagi persoalan orang-orang itu, seharusnya rakyat yang perlu dilindungi, bukan mereka!” kata Zainal
Ditengah perbincangan Zainal dan warga akhirnya Inaq Patimah menyadarkan diri dan memanggil “Zainal….Zainal…” dengan suaranya yang sangat lemah namun masih bisa terdengar.
Zainal lalu mendekati Inaqnya dan berkata dengan lembut “kenapa Inaq?” seketika sifat kasarnya terhadap Inaq Patimah hilang.
“jaga baik-baik sawah peninggalan Amak, jangan sampai itu diambil alih oleh orang lain” suara Inaq Patimah semakin melemah
“Iya Naq iya, Zainal akan jaga baik-baik sawah kita, tetapi Inaq harus sembuh” kata Zainal nampak ingin menangis
Seketika Inaq Patimah tidak menjawab dan kembali kehilangan kesadaran, namun kali ini ia tidak pingsan, salah seorang warga memegangi urat nadi dan lehernya dan ia hanya menggeleng-geleng kepala, Inaq Patimah telah tiada
Sontak Zainal berteriak dan menangis “Inaq……!” diikuti oleh beberapa isak tangis dari warga
Lambat laun diketahui bahwa Inaq Patimah meninggal karena terjadi pendarahan di otaknya karena kerasnya benturan yang ia alami. Pak Gubernur dan Pak Walikota pun ikut menghadiri pemakaman Inaq Patimah meskipun sempat mendapat penolakan dari warga. Mereka berjanji bahwa tidak akan ada pengambilan lahan di Kelurahan Panin ini dan pembangunan gedung PLN akan dipindahkan ke tempat yang lebih pantas dan tidak merusak lingkungan.
Penan, Mataram.
23 September 2019.



Komentar
Posting Komentar