Puisi Fiksi
FIKSI
Diujung petang yang berbalut dingin, gemercik wajahmu hadir bak tertiup angin dari segala arah
Sayup-sayup senyum manismu nampak terbit dari kedua sisi bibir tipismu, menukik tajam hingga ke uluh hati
Seketika pandangan ini kosong, bola mata berbinar binar, bahkan debur jantung bertalu-talu tak menentu
Ah, lirihku tersadar. Kau hanyalah satu dari sekian kisah fiksi yang menyilaukan, menghadirkan imajinasi yang tak mampu direalisasi.
22 Juli 2019
Atap Penan, Pejarakkan.



Komentar
Posting Komentar